Timor.id – Arsenal dan Atletico Madrid mengakhiri leg pertama semifinal Liga Champions dengan hasil imbang 1-1 di Stadion Wanda Metropolitano pada 29 April 2026. Kedua tim saling berhadapan dalam laga yang sarat drama, terutama karena tiga keputusan penalti yang menjadi sorotan utama. Viktor Gyokeres mengeksekusi penalti pertama Arsenal menjelang jeda babak pertama, sementara Julian Alvarez menyamakan kedudukan lewat tendangan penalti pada menit ke-56 setelah Ben White mendapat hukuman handball yang kontroversial. Kedua gol tersebut menandai satu setengah babak penuh aksi intens.
Menjelang menit ke-79, Arsenal memperoleh peluang penalti kedua setelah Eberechi Eze terjatuh di dalam kotak penalti. Namun, VAR (Video Assistant Referee) menilai tidak ada kontak yang cukup jelas, sehingga keputusan wasit Danny Makkelie untuk mengangkat bendera penalti dibatalkan. Keputusan ini memicu reaksi keras dari manajer Mikel Arteta, yang menyatakan “Tidak ada kesalahan yang jelas dan nyata” dan menuduh keputusan tersebut mengubah jalannya pertandingan pada level tertinggi.
Di sisi lain, pelatih Atletico Diego Simeone menanggapi tiga keputusan penalti tersebut dengan sikap tenang namun kritis. Simeone mengakui peran VAR dalam mengidentifikasi handball Ben White, namun menyatakan bahwa keputusan penalti pertama untuk Arsenal memang sah karena ada kontak yang terlihat. Ia menambahkan, “Kadang VAR memberi, kadang mengambil. Itu bagian dari permainan modern.”
Baca Juga:
Sebelum pertandingan dimulai, Arsenal mengajukan permintaan tak biasa kepada UEFA terkait kondisi lapangan. Tim teknis Gunners menilai rumput di Wanda Metropolitano terlalu tinggi, mengklaim bahwa panjangnya menghambat kecepatan permainan mereka. UEFA merespon dengan mengonfirmasi bahwa panjang rumput berada pada 26 milimeter, berada di bawah batas maksimum 30 milimeter yang diizinkan, sehingga permintaan Arsenal tidak berujung pada penyesuaian apapun. Kontroversi ini menambah ketegangan menjelang leg kedua.
Dari sisi taktik, Arteta menempatkan Declan Rice dalam peran lebih dalam untuk mengendalikan tempo dan memutus serangan balik. Sementara itu, William Saliba tampil solid di lini pertahanan, menahan serangan sayap kiri Atletico yang dipimpin Khvicha Kvaratskhelia. Bagi Atletico, Julian Alvarez menjadi ancaman utama di lini serang, meski ia digantikan pada menit ke-78 untuk memberi ruang bagi pemain muda. Antoine Griezmann, yang menerima penghargaan Player of the Match, menambah tekanan dengan tembakan melengkung yang hampir menyentuh gawang lawan.
Leg kedua akan menjadi pertarungan penentu, mengingat Arsenal memiliki keunggulan kandang di London. Jika mereka berhasil memanfaatkan dukungan suporter dan menjaga ketat pertahanan, peluang melaju ke final sangat terbuka. Di lain pihak, Atletico akan berusaha menyeimbangkan serangan dan pertahanan, mengandalkan kecepatan sayap dan kreativitas Alvarez. Kedua tim bersaing untuk mengamankan tempat melawan Bayern Munich atau Paris Saint-Germain di final bulan depan.
Sementara itu, tekanan terhadap Mikel Arteta semakin meningkat. Beberapa pihak menilai bahwa keberhasilan Arsenal musim ini akan sangat menentukan nasib sang manajer. Seorang mantan pemain Inggris, Matthew Upson, menyatakan bahwa jika Arsenal kembali pulang tanpa trofi, Arteta dapat dihadapkan pada ultimatum keras dari dewan. Arteta sendiri menegaskan bahwa fokus utama tetap pada memenangkan setidaknya satu trofi utama, baik itu Piala FA, Liga Inggris, atau bahkan Champions League.
Dengan agenda pertandingan liga domestik yang menumpuk, Arsenal harus menyeimbangkan energi antara pertarungan di Inggris dan ambisi Eropa. Pertandingan melawan Fulham pada akhir pekan akan menjadi ujian tambahan, sementara Atletico memiliki jadwal tandang ke Valencia. Kedua tim berada pada fase kritis musim, dan keputusan-keputusan di atas lapangan, baik itu penalti, VAR, maupun permintaan rumput, dapat menjadi faktor penentu dalam meraih kejayaan akhir musim.




