Umuh Muchtar Paksa Hadir di Lampung: Dari Sorotan Wasit Persib hingga Kirab Panji Sumedang Larang

Author Image

Terbit

2 Mei 2026, 09:55 WIB

Umuh Muchtar Paksa Hadir di Lampung: Dari Sorotan Wasit Persib hingga Kirab Panji Sumedang Larang
Umuh Muchtar Paksa Hadir di Lampung: Dari Sorotan Wasit Persib hingga Kirab Panji Sumedang Larang

Timor.id – Sumedang – Umuh Muchtar, tokoh masyarakat yang dikenal aktif dalam dunia olahraga dan kebudayaan, kembali mencuri perhatian publik dengan keputusan kontroversialnya untuk ikut mengiringi tim Persib Bandung dalam laga tandang melawan Arema FC di Lampung. Keputusan ini tidak hanya menjadi buah bibir penggemar sepak bola, tetapi juga menambah dimensi baru pada peranannya dalam memperkuat identitas budaya Sunda, khususnya melalui partisipasinya dalam Kirab Panji Sumedang Larang yang digelar beberapa hari sebelumnya.

Menurut keterangan yang didapatkan, Umuh menegaskan bahwa kehadirannya di Lampung bertujuan untuk memberikan dukungan moral kepada Persib serta mengawasi kualitas keputusan wasit. “Saya tidak bisa tinggal diam ketika tim Persib berjuang di lapangan. Saya ingin memastikan keadilan di lapangan, terutama dalam hal keputusan wasit yang kadang menjadi penentu hasil,” ujar Umuh Muchtar dalam sebuah wawancara singkat sebelum keberangkatan. Ia menambahkan bahwa kehadirannya bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai “pengamat independen” yang dapat menilai secara objektif setiap kebijakan yang diambil oleh ofisial pertandingan.

Langkah tersebut menuai beragam reaksi. Sebagian pendukung Persib menyambut baik niatnya, menganggap kehadiran figur publik dapat menambah tekanan positif pada wasit untuk bermain adil. Sementara itu, kalangan lain mengkritik bahwa tindakan tersebut berpotensi menimbulkan intervensi di luar arena pertandingan. Namun, Umuh menegaskan bahwa ia tidak berniat mengintervensi, melainkan hanya mengamati dan menyuarakan aspirasi suporter secara konstruktif.

Pada saat yang bersamaan, Umuh Muchtar juga tampil dalam acara kebudayaan yang berlangsung di Kabupaten Sumedang, yaitu Kirab Panji Sumedang Larang. Kirab tersebut merupakan bagian penting dari rangkaian perayaan Milangkala Tatar Sunda serta peringatan Hari Jadi ke-448 Sumedang. Prosesi dimulai dari Pendopo Kecamatan Darmaraja, di mana panji Sumedang Larang dibawa secara berjalan kaki menuju Tegalkalong, kemudian dilanjutkan dengan pawai ke Srimanganti di lingkungan Keraton Sumedang Larang pada 2 Mei 2026.

Dalam acara itu, Umuh menyampaikan pidato singkat yang menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan lokal. “Momentum ini menjadi pengingat akan jati diri dan warisan budaya yang harus terus dijaga serta dilestarikan oleh generasi penerus,” katanya. Ia juga menekankan hubungan erat antara semangat sportivitas dalam sepak bola dan nilai‑nilai kebersamaan yang diusung oleh tradisi Sunda.

Para pejabat setempat, termasuk Camat Darmaraja Hilman Abdilah, memberikan apresiasi terhadap kontribusi Umuh. “Kami berharap Kirab Panji Sumedang Larang tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya di wilayah Darmaraja,” ujar Hilman. Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, menambahkan bahwa tanggal 22 April memiliki makna historis karena pada hari itu Mahkota Binokasih diserahkan kepada Sumedang Larang, menandai tonggak penting dalam sejarah kerajaan Sunda.

Keputusan Umuh untuk mendampingi Persib di Lampung menjadi titik temu antara dua dunia yang tampaknya berbeda: dunia olahraga modern yang bersifat kompetitif dan dunia kebudayaan tradisional yang sarat makna historis. Bagi banyak orang, tindakan ini memperlihatkan bahwa seorang tokoh masyarakat dapat menjadi jembatan yang menyatukan semangat kompetisi sehat dengan nilai‑nilai kebersamaan budaya.

Berikut beberapa poin penting yang mencerminkan peran ganda Umuh Muchtar:

  • Pengawasan wasit: Umuh berencana mencatat setiap keputusan penting selama pertandingan, lalu menyampaikannya melalui media sosial untuk transparansi.
  • Dukungan moral: Kehadiran fisik di stadion diharapkan dapat meningkatkan semangat pemain Persib dan menurunkan tekanan mental.
  • Promosi budaya: Dengan menonjolkan identitas Sunda dalam pidato dan penampilan di Kirab, ia memperkuat rasa kebanggaan lokal.
  • Kolaborasi lintas sektor: Menggabungkan dukungan olahraga dengan pelestarian budaya menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dan dunia sport.

Secara keseluruhan, aksi Umuh Muchtar menggarisbawahi pentingnya peran tokoh lokal dalam menciptakan ekosistem yang seimbang antara sport, budaya, dan partisipasi publik. Meski terdapat perbedaan pandangan, langkahnya menginspirasi diskusi lebih luas tentang bagaimana masyarakat dapat berkontribusi pada integritas olahraga sekaligus melestarikan warisan budaya yang tak ternilai.

Ke depan, banyak yang menantikan hasil evaluasi dari kehadiran Umuh di Lampung. Apakah kehadirannya akan mempengaruhi keputusan wasit? Bagaimana respons resmi Persib dan Asosiasi Sepak Bola Indonesia? Sementara itu, masyarakat Sumedang terus mengingatkan bahwa kebanggaan mereka tidak hanya terletak pada prestasi di lapangan hijau, melainkan juga pada kelestarian nilai‑nilai tradisional yang terpatri dalam setiap langkah Kirab Panji Sumedang Larang.

Related Post

Terbaru