Timor.id – Pertandingan 35. Spieltag Swiss Super League antara FC Basel dan FC Thun pada 2 Mei 2026 menjadi sorotan utama setelah akhir pekan yang dipenuhi ketegangan. Dengan hasil akhir 3-1 untuk Basel, harapan Thun meraih gelar juara secara matematis langsung menguap, sekaligus menambah tekanan pada pemuncak klasemen lain, FC St. Gallen, yang masih harus menunggu hasil laga melawan FC Sion.
Babak pertama dimulai dengan tempo tinggi. Pada menit ke-41, FC Thun membuka keunggulan lewat gol spektakuler dari Matoshi. Setelah kombinasi cepat antara Heule dan Imeri, umpan silang menemukan Matoshi dalam posisi bebas di area penalti, ia menaklukkan kiper Basel dengan tembakan tepat ke sudut bawah gawang. Sorakan penonton Thun menggema, memberi sinyal bahwa tim yang baru naik divisi ini siap menantang dominasi tradisional Basel.
Namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Menjelang jeda babak pertama, pada menit ke-45, Metinho menyeimbangkan kedudukan untuk Basel dengan tendangan jarak jauh yang melesat ke sudut atas gawang. Bola meluncur melewati pertahanan Thun dan menancap ke jaringan, memaksa Thun menerima hasil imbang pada jeda pertama.
Baca Juga:
Babak kedua menjadi arena pertaruhan taktik dan disiplin. Pada menit ke-25, Fabio Fehr, bek sayap Thun, menerima peringatan kuning setelah melakukan tackle keras pada Albian Ajeti. Beberapa menit kemudian, pada menit ke-87, Ajeti berhasil memperkecil jarak dengan gol dari sudut sempit, memanfaatkan ruang yang muncul setelah Thun kehilangan satu pemain karena kartu merah yang diberikan kepada Fehr pada menit ke-91. Keputusan VAR menolak permohonan pengulangan keputusan tersebut, menegaskan bahwa tindakan Fehr memang layak mendapatkan kartu merah.
Gol ketiga Basel datang pada menit ke-92 melalui K. Koindredi, yang menembus lini tengah Thun dan mengirimkan bola ke dalam kotak penalti, sebelum menambahkan satu poin lagi untuk tim tuan rumah. Gol tersebut menutup semua harapan Thun untuk kembali ke jalur kemenangan.
Selain aksi di lapangan, keputusan wasit Fedayi San juga menjadi sorotan. Meskipun ia menegakkan kartu merah terhadap Fehr, ia melewatkan peluang penalti yang jelas setelah Jan Bamert menahan Giacomo Koloto di dalam kotak penalti Thun. VAR tidak mengintervensi, menimbulkan protes dari pelatih Thun yang menilai keputusan tersebut mempengaruhi hasil akhir pertandingan.
Kondisi fisik pemain Thun juga menjadi faktor penting. Pada laga sebelumnya melawan Lugano, bek Genis Montolio mengalami cedera ligamen cruciatum yang memaksa ia absen. Di Basel, bek dalam, Ethan Meichtry juga tidak dapat tampil karena cedera, menambah beban pada lini pertahanan Thun yang sudah lemah.
Dengan hasil ini, Basel memperkuat posisinya di puncak klasemen, sementara Thun harus menunggu hasil pertandingan antara St. Gallen dan Sion pada hari Minggu. Jika St. Gallen gagal mengamankan poin, peluang Thun untuk meraih gelar secara teoritis masih terbuka, meski secara praktis peluang tersebut sangat kecil mengingat selisih poin yang signifikan.
Secara statistik, Basel mencatat kepemilikan bola 58% dan 12 tembakan tepat sasaran, dibandingkan dengan 6 tembakan Basel. Statistik ini mencerminkan dominasi taktis Basel meskipun Thun sempat menampilkan serangan balik yang mematikan pada babak pertama.
Keputusan VAR, kartu merah, serta cedera pemain menjadi topik perbincangan di antara analis sepak bola Swiss. Banyak yang menilai bahwa kebijakan wasit dan penggunaan teknologi belum optimal, terutama pada insiden penalti yang terlewat. Sementara itu, pelatih Basel mengapresiasi kerja tim yang konsisten, menekankan pentingnya menjaga konsentrasi hingga peluit akhir.
Dengan sisa tiga pertandingan di musim ini, persaingan gelar menjadi semakin ketat. Basel harus tetap fokus, sementara Thun harus mengevaluasi strategi dan memperbaiki disiplin agar dapat kembali bersaing pada musim berikutnya.




