Rupiah terendah pecah rekor di Rp 17.412, Ekonomi RI Tumbuh 5,61% – Indonesia Lepas Kutukan 5 Persen

Author Image

Terbit

6 Mei 2026, 10:54 WIB

Rupiah terendah pecah rekor di Rp 17.412, Ekonomi RI Tumbuh 5,61% – Indonesia Lepas Kutukan 5 Persen
Rupiah terendah pecah rekor di Rp 17.412, Ekonomi RI Tumbuh 5,61% – Indonesia Lepas Kutukan 5 Persen

Timor.id – Pada perdagangan pagi Selasa, 5 Mei 2026, nilai tukar rupiah jatuh ke level terendah dalam sejarah, mencatat Rp 17.412 per dolar AS. Penurunan ini terdeteksi pada pukul 09.52 WIB, menurun 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan level sebelumnya. Angka tersebut menandai catatan terendah sejak mata uang Indonesia pertama kali diperdagangkan secara modern.

Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah sudah melemah 13,5 poin atau 0,08 persen pada awal sesi, berada di kisaran Rp 17.407 per dolar. Tekanan eksternal yang dipicu oleh volatilitas pasar global masih menjadi faktor utama, memperparah sentimen negatif di kalangan investor domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mencerminkan kegelisahan pasar, dibuka di zona merah pada level 6.951, turun 0,15 persen. Penurunan saham ini mempertegas bahwa pasar keuangan Indonesia tengah berada dalam fase defensif, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Di tengah gejolak nilai tukar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia berhasil melampaui “kutukan” pertumbuhan 5 persen. Pada konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026, ia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, naik dari 5,39 persen pada kuartal IV 2025. Purbaya menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan akselerasi yang signifikan meski kondisi eksternal masih menantang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat klaim tersebut. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat Rp 3.447,7 triliun, sementara atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.187,2 triliun. Pertumbuhan tersebut dipicu oleh tiga pilar utama:

  • Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, menyumbang lebih dari 54 persen terhadap total PDB.
  • Belanja pemerintah yang melonjak 21,81 persen, didorong oleh pembayaran THR, bantuan sosial, dan program infrastruktur.
  • Peningkatan investasi tetap berjalan, tercermin dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menunjukkan tren positif.

Meskipun pencapaian ini menggembirakan, pemerintah tetap waspada terhadap risiko eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar, tekanan pada sektor ekspor, serta ketidakpastian geopolitik. Purbaya menambahkan bahwa kebijakan jangka pendek akan difokuskan pada memperkuat permintaan domestik serta meningkatkan daya saing sektor ekspor.

Berikut rangkuman data kunci pada hari Selasa:

Indikator Nilai
Rupiah per USD Rp 17.412
IHSG (pembukaan) 6.951 (-0,15%)
Pertumbuhan Q1 2026 5,61% YoY
Pertumbuhan Q4 2025 5,39% YoY

Ke depan, tantangan utama tetap pada stabilitas nilai tukar dan pengelolaan risiko eksternal. Pemerintah berencana mengimplementasikan kebijakan moneter yang kooperatif dengan Bank Indonesia serta memperluas skema dukungan bagi perusahaan berorientasi ekspor. Upaya ini diharapkan dapat menahan tekanan pada rupiah sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang kini berada di atas 5 persen.

Dengan pertumbuhan yang menguat dan kebijakan yang responsif, Indonesia berada pada posisi yang lebih baik untuk menavigasi ketidakpastian global, sekaligus memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar dan masyarakat luas.

Related Post

Terbaru