Timor.id – Insiden yang mengguncang Elite Pro Academy (EPA) U-20 pada 19 April 2026 kembali menjadi sorotan utama dunia sepak bola Indonesia. Pada laga Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pemain muda berbakat yang sekaligus menjadi andalan Timnas Indonesia U-20, Fadly Alberto, melakukan aksi tendangan kungfu terhadap pemain lawan, Rakha Nurkholis. Peristiwa tersebut memicu kericuhan di lapangan dan menimbulkan reaksi keras dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Setelah menelusuri video pertandingan, mengumpulkan keterangan saksi, serta melakukan evaluasi medis terhadap korban, Komdis PSSI memutuskan menjatuhkan sanksi paling berat kepada Fadly Alberto. Pemain berusia 18 tahun itu dilarang berpartisipasi dalam kompetisi resmi sepak bola Indonesia selama tiga tahun, mulai dari tanggal putusan pada 1 Mei 2026. Keputusan ini menandai hukuman terlama yang pernah dijatuhkan kepada pemain usia muda dalam sejarah EPA U-20.
Selain Fadly Alberto, empat rekan setimnya dari Bhayangkara FC U-20 juga menerima sanksi. Berikut rincian sanksi yang dijatuhkan:
Baca Juga:
- Aqilah Lissunnah Aljundi – larangan bermain 2 tahun
- Afrizal Riqh – larangan bermain 2 tahun
- Ahmad Catur – larangan bermain 2 tahun
- M. Mufdi Iskandar – larangan bermain 1 tahun
Tak hanya pemain, satu ofisial tim, Muklis Hadi Ning, juga dikenai hukuman larangan mendampingi tim dalam empat pertandingan resmi. Total, Bhayangkara FC U-20 menerima tujuh sanksi dari Komdis PSSI.
Manajer tim, Yongky Pamungkas, menyampaikan bahwa klub menghormati keputusan Komdis namun tetap berpendapat bahwa durasi sanksi masih perlu ditinjau ulang. “Kami menghormati keputusan Komite Disiplin PSSI, namun ada beberapa fakta di lapangan yang belum sepenuhnya dipertimbangkan, terutama mengenai konteks emosional dan posisi beberapa pemain yang turut menjadi korban dalam kericuhan tersebut,” ujar Yongky dalam konferensi pers pada 1 Mei 2026.
Yongky menambahkan bahwa hubungan antar pemain Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 selama ini bersifat akrab, dan insiden tersebut hanyalah ledakan emosional sesaat. Oleh karena itu, klub berencana mengajukan banding ke Komite Banding PSSI dengan harapan dapat memperoleh penilaian yang lebih objektif dan proporsional.
Sejumlah analis sepak bola menilai bahwa hukuman tiga tahun bagi Fadly Alberto dapat memberikan efek jera bagi generasi pemain muda. Namun, ada pula suara yang mengkritik keputusan tersebut sebagai langkah yang terlalu keras mengingat usia pemain dan potensi rehabilitasi psikologis yang masih dapat dilakukan.
Di sisi lain, Dewa United U-20 menyatakan bahwa mereka menerima keputusan Komdis sebagai bentuk keadilan. Rakha Nurkholis, korban tendangan, melaporkan bahwa ia telah menerima perawatan medis dan psikologis untuk memulihkan diri.
Sejak insiden, kedua tim telah mengadakan pertemuan mediasi di Tangerang pada 22 April 2026, yang difasilitasi oleh perwakilan PSSI. Mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menjaga hubungan sportif antar pemain, meski hukuman tetap berjalan.
Kasus ini juga menimbulkan perdebatan luas di media sosial tentang pentingnya edukasi disiplin dan kontrol emosi bagi pemain muda. Beberapa pakar psikologi olahraga menekankan perlunya program pelatihan mental yang lebih intensif di akademi sepak bola.
Ke depan, Bhayangkara FC U-20 berjanji akan memperkuat pembinaan karakter dan meninjau kebijakan internal terkait manajemen konflik di lapangan. Klub juga menegaskan komitmennya untuk melindungi hak-hak pemain melalui jalur hukum yang ada, sambil tetap menunggu hasil proses banding.
Kasus Fadly Alberto menjadi contoh nyata bahwa perilaku agresif di lapangan dapat berujung pada konsekuensi karier yang serius. Sementara proses banding masih berjalan, dunia sepak bola Indonesia menantikan keputusan akhir yang dapat menjadi preseden bagi penegakan disiplin di masa mendatang.




