Timor.id – Arsenal menutup leg pertama semifinal Liga Champions 2025/2026 dengan hasil imbang 1-1 melawan Atletico Madrid di stadion Metropolitano. Meskipun Gunners sempat unggul lewat eksekusi penalti Viktor Gyokeres pada menit ke-44, keunggulan itu sirna setelah Julian Alvarez menyamakan kedudukan pada menit ke-56. Kontroversi kembali muncul ketika Eberechi Eze dijatuhkan di dalam kotak penalti oleh bek Atletico, David Hancko, pada menit ke-78. Wasit asal Belanda, Danny Makkelie, sempat mengangkat bendera putih, namun setelah meninjau ulang melalui sistem VAR keputusan tersebut dibatalkan.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyatakan bahwa keputusan pembatalan penalti mengubah dinamika pertandingan secara signifikan. “Yang membuat saya sangat marah adalah bagaimana penalti untuk Eze dibatalkan dengan cara seperti itu, padahal tidak ada kesalahan yang jelas dan nyata. Ini mengubah jalannya pertandingan,” ujar Arteta dalam konferensi pers pasca laga. Arteta menekankan bahwa ada kontak yang cukup jelas pada insiden tersebut dan menilai proses peninjauan VAR yang berulang justru mempertegas keberadaan pelanggaran.
Di sisi lain, pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, memberikan pandangan yang lebih santai. Simeone menilai bahwa keputusan-keputusan VAR memang menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola modern, yang kadang memberi keuntungan, kadang pula merugikan. “Untuk penalti pertama, ada dorongan dari belakang. Handball diberikan berkat VAR, dan penalti kedua tidak diberikan juga karena VAR. Terkadang VAR memberi, terkadang juga mengambil,” kata Simeone.
Baca Juga:
Berikut rangkaian momen penting dalam pertandingan:
- Menit 44: Viktor Gyokeres mengeksekusi penalti pertama Arsenal, memberi tim asuhannya keunggulan 1-0.
- Menit 56: Julian Alvarez menyamakan skor melalui tendangan penalti untuk Atletico Madrid.
- Menit 78: Eberechi Eze dijatuhkan di dalam kotak penalti. Awalnya wasit memberi penalti, namun keputusan dibatalkan setelah tinjauan VAR.
Keputusan VAR menjadi sorotan utama setelah pertandingan berakhir. Arteta menilai bahwa proses peninjauan yang memerlukan penayangan berulang-ulang justru menegaskan keberadaan kontak, sehingga pembatalan penalti tidak dapat dibenarkan. Ia menambahkan bahwa keputusan semacam ini dapat mengubah arah dua leg yang masih tersisa, terutama mengingat Arsenal akan menjadi tuan rumah pada leg kedua yang dijadwalkan di Emirates Stadium minggu depan.
Simeone, sementara itu, mengakui bahwa penggunaan VAR memang masih menimbulkan perdebatan, namun ia menegaskan bahwa wasit dan tim teknis harus menerima hasil keputusan akhir. “VAR adalah alat, bukan penentu mutlak. Kita harus siap dengan segala kemungkinan,” pungkasnya.
Hasil imbang 1-1 tersebut tetap membuka peluang besar bagi kedua tim. Arsenal, yang masih menyandang rekor tak terkalahkan di Liga Champions selama 13 laga, berharap dapat memanfaatkan dukungan suporter di London untuk menambah satu gol lagi. Sementara Atletico Madrid bertekad mempertahankan keunggulan mental mereka dan mencoba mengendalikan tempo pada leg kedua.
Berita ini menambah daftar kontroversi VAR yang terus menghantui kompetisi elit Eropa. Pengamat sepak bola menilai bahwa federasi UEFA perlu meninjau prosedur peninjauan kembali untuk menghindari keputusan yang dinilai tidak konsisten. Sementara itu, para pendukung Arsenal menuntut klarifikasi resmi dari UEFA mengenai prosedur penalti yang dibatalkan.
Dengan satu laga tersisa, drama sepak bola Eropa masih belum usai. Arsenal dan Atletico Madrid masing‑masing menyiapkan strategi khusus menjelang pertemuan kedua, sementara Mikel Arteta berjanji akan memperkuat semangat timnya agar tidak terhalang oleh keputusan teknis di lapangan.




