Timor.id – Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Air, Retno Marsudi, menggelar pertemuan strategis dengan Presiden Kazakhstan Kassym‑Jomart Tokayev di Astana pada 15 April 2026. Kunjungan ini menandai langkah penting dalam memperkuat kerja sama bilateral Indonesia‑Kazakhstan di bidang pengelolaan sumber daya air dan penanggulangan perubahan iklim global.
Pertemuan berlangsung di Istana Presiden, di mana kedua pemimpin membahas agenda bersama untuk mengatasi krisis air yang semakin mendesak. Tokayev menekankan bahwa air adalah aset strategis bagi Kazakhstan, berperan vital dalam pertumbuhan berkelanjutan, stabilitas regional, dan keamanan nasional. Ia juga mengingatkan pentingnya kerangka kerja internasional yang lebih kuat, termasuk usulan pendirian organisasi air internasional di bawah naungan PBB.
Retno Marsudi menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung inisiatif global tersebut. Ia menyoroti keberhasilan World Water Forum ke‑10 yang digelar di Bali pada Mei 2024, yang dihadiri oleh 160 negara dan lebih dari 2.000 delegasi. Forum tersebut menjadi katalisator penunjukan Retno sebagai Utusan Khusus PBB untuk Air, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai standar terbaik dalam memperluas, mematuhi, dan melaksanakan kerja sama internasional di sektor air.
Baca Juga:
Berbagai pejabat tinggi turut hadir dalam pertemuan, termasuk Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman, Menteri Luar Negeri Kazakhstan, Yermek Kosherbayev, serta Duta Besar Kazakhstan khusus untuk Air, Zulfiya Sulaimenova. Semua pihak sepakat untuk memperluas kolaborasi teknis, pertukaran data hidrologi, serta pengembangan infrastruktur pengelolaan air yang berkelanjutan.
- Penguatan Mekanisme Bilateral: Penandatanganan nota kesepahaman untuk pertukaran teknologi pengolahan air limbah dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
- Agenda Konferensi Air PBB 2026: Kedua negara berkomitmen mendukung agenda utama Konferensi Air PBB di Abu Dhabi pada Desember 2026, sebagai platform untuk memperkuat koordinasi internasional.
- Kunjungan Kenegaraan: Presiden Tokayev merencanakan kunjungan resmi ke Jakarta pada 2026, yang akan memperdalam dialog strategis di bidang air, energi, dan iklim.
Fadjroel Rachman menilai bahwa kunjungan ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas, tidak hanya dalam sektor air tetapi juga dalam proyek energi terbarukan dan pengelolaan sampah menjadi listrik. Ia menambahkan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola sumber daya air di kepulauan dapat menjadi model bagi Kazakhstan, khususnya dalam mengoptimalkan penggunaan air di wilayah Asia Tengah yang rawan kekeringan.
Tokayev juga menyinggung rencana Kazakhstan untuk berperan aktif dalam inisiatif PBB tentang air, termasuk kontribusi pada pendanaan program adaptasi iklim dan mitigasi bencana hidrologi. Ia mengapresiasi peran Indonesia dalam memfasilitasi dialog multilateral dan berharap kerja sama ini dapat menghasilkan kebijakan bersama yang dapat diimplementasikan secara regional.
Selain diskusi formal, Retno Marsudi juga melakukan kunjungan lapangan ke salah satu proyek irigasi modern di Kazakhstan, yang menunjukkan penerapan teknologi sensor berbasis IoT untuk memantau kualitas dan kuantitas air secara real‑time. Pengalaman ini diharapkan dapat diadaptasi di Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah yang menghadapi tantangan kekurangan air.
Secara keseluruhan, pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk mengatasi krisis air secara kolektif, memperkuat jaringan diplomasi iklim, serta memajukan agenda pembangunan berkelanjutan. Dengan dukungan PBB, Indonesia dan Kazakhstan bertekad menjadikan air sebagai sumber daya yang dikelola secara rasional, adil, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.




