Anna Wintour Guncang Met Gala: Dari Larangan Menu hingga Kembalinya ‘Devil Wears Prada’

Author Image

Terbit

3 Mei 2026, 21:56 WIB

Anna Wintour Guncang Met Gala: Dari Larangan Menu hingga Kembalinya ‘Devil Wears Prada’
Anna Wintour Guncang Met Gala: Dari Larangan Menu hingga Kembalinya ‘Devil Wears Prada’

Timor.idAnna Wintour kembali menjadi sorotan utama dunia mode setelah serangkaian keputusan kontroversial menjelang Met Gala tahun ini. Sebagai pemimpin redaksi Vogue dan kurator utama acara paling megah di kalender hiburan, Wintour tidak hanya menentukan tema busana, melainkan juga mengatur detail kuliner yang jarang terungkap kepada publik.

Dalam upaya meningkatkan standar kesehatan dan etika, Wintour secara resmi melarang penggunaan beberapa bahan makanan tertentu pada menu Met Gala. Daftar larangan mencakup bahan-bahan yang dianggap tidak ramah lingkungan atau berpotensi menimbulkan reaksi alergi pada tamu. Antara bahan yang dilarang terdapat:

  • Produk olahan daging yang mengandung nitrat berlebih.
  • Keju berjamur yang diproduksi secara massal tanpa kontrol kualitas ketat.
  • Beberapa jenis seafood yang diambil secara tidak berkelanjutan.
  • Gula rafinasi tinggi yang dapat memicu lonjakan gula darah.

Keputusan ini menuai pujian dari aktivis lingkungan sekaligus kritik dari para chef selebriti yang menilai pembatasan tersebut mengurangi kebebasan kreatif. Namun Wintour menegaskan bahwa “Met Gala harus menjadi contoh bagi industri kuliner dan mode, menunjukkan bahwa keanggunan dapat berdampingan dengan tanggung jawab sosial.”

Tak hanya urusan makanan, Anna Wintour juga menunjukkan sisi sentimentalnya dengan mengungkapkan keterlibatannya dalam produksi film “Devil Wears Prada 2”. Setelah bertahun‑tahun menjauh dari proyek film yang menyoroti kehidupan redaksi majalah, Wintour kini menyatakan dukungan penuh terhadap sekuel yang akan menampilkan perspektif baru. Ia menilai bahwa film tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami dinamika industri mode yang penuh tekanan.

Sebagai tambahan, laporan terbaru mengaitkan peran Princess Diana dalam memotivasi Wintour untuk menjadikan Met Gala lebih “layak bagi seorang putri”. Menurut sumber, Diana pernah mengunjungi kantor Vogue pada awal 1990-an dan menyampaikan harapan bahwa acara mode tahunan tersebut dapat menjadi platform amal yang lebih berpengaruh. Inspirasi tersebut konon menggerakkan Wintour untuk menambahkan elemen filantropi yang lebih kuat, menjadikan donasi untuk yayasan amal menjadi sorotan utama pada setiap edisi Met Gala.

Namun, tidak semua pihak menyambut langkah Wintour dengan antusias. Sejumlah selebritas, termasuk Billy Porter dan Tina Fey, secara terbuka menyuarakan kritik mereka terhadap keputusan kuratorial Wintour. Porter menilai bahwa tema tahun ini terlalu eksklusif, sementara Fey menyoroti kurangnya representasi budaya dalam pilihan pakaian resmi. Kritik tersebut memicu perdebatan hangat di media sosial, menyoroti ketegangan antara otoritas fashion tradisional dan suara baru yang menuntut inklusivitas.

Di sisi lain, Jill Demling, mantan asisten pribadi Wintour, membuka tabir proses kreatif yang melahirkan tokoh Emily dalam film “The Devil Wears Prada”. Demling mengungkapkan bahwa pengalamannya bekerja langsung bersama Wintour memberikan inspirasi bagi karakter Emily, yang digambarkan sebagai asisten muda yang ambisius namun tertekan. “Saya melihat betapa Wintour menyeimbangkan ketelitian dengan visi artistik yang tinggi. Itulah yang menjadi bahan bakar bagi karakter Emily,” ujar Demling dalam sebuah wawancara eksklusif.

Keseluruhan, keputusan Anna Wintour tahun ini menegaskan posisi dirinya sebagai figur sentral yang tidak hanya mengarahkan tren busana, tetapi juga mempengaruhi aspek sosial, lingkungan, dan budaya dalam industri mode. Dari larangan bahan makanan di Met Gala, pengaruh Princess Diana, hingga kembalinya film ikonik, semua langkahnya menunjukkan bahwa dunia fashion kini berada pada persimpangan antara tradisi dan inovasi.

Melihat dinamika ini, para pengamat menyimpulkan bahwa masa depan Met Gala dan Vogue akan semakin dipengaruhi oleh suara‑suara kritis yang menuntut transparansi dan keberlanjutan. Anna Wintour, dengan semua kontroversi dan pujian yang menyertainya, tetap menjadi kekuatan penggerak utama yang menantang industri untuk terus berevolusi.

Related Post

Terbaru