Timor.id – Kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde menjadi sorotan internasional setelah dilaporkan terjadi wabah hantavirus yang telah menewaskan tiga orang penumpang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi bahwa strain Andes penyebab wabah memiliki risiko penularan rendah karena hanya menular melalui kontak fisik dekat.
Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang secara alami menular dari hewan ke manusia, dengan agen pembawa utama berupa hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Manusia biasanya tertular melalui proses inhalasi atau menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh partikel virus dari kotoran tikus, atau melalui kontak langsung dengan benda-benda yang terpapar cairan tubuh hewan pengerat.
Gejala infeksi hantavirus seringkali menipu karena menyerupai flu biasa pada tahap awal, yang muncul dalam rentang waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar. Pasien umumnya akan mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, serta kelelahan yang luar biasa. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang sangat berbahaya, ditandai dengan sesak napas akut dan penumpukan cairan di paru-paru yang memiliki tingkat kematian mencapai 38 persen.
Baca Juga:
WHO menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum di luar lingkungan kapal tetap rendah, sehingga belum ada instruksi untuk pembatasan perjalanan internasional secara luas. Namun, upaya evakuasi dan repatriasi besar-besaran tengah dilakukan terhadap para penumpang kapal MV Hondius.
Kapal MV Hondius kini dijadwalkan menuju Tenerife, Spanyol, untuk proses pemulangan para penumpang asing. Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, menyatakan bahwa setidaknya 14 penumpang berkewarganegaraan Spanyol akan langsung dikarantina di rumah sakit militer di Madrid begitu tiba di Tenerife.
Pemerintah Afrika Selatan mengonfirmasi bahwa strain yang menginfeksi para korban adalah strain Andes (Andean strain), yang merupakan satu-satunya jenis Hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, meski kasusnya sangat langka.
Kementerian Kesehatan Argentina kini bergerak cepat melakukan pelacakan di kota Ushuaia, wilayah selatan Argentina yang menjadi titik awal keberangkatan kapal pesiar tersebut pada 1 April lalu. Pemerintah setempat akan melakukan pemasangan perangkap dan analisis terhadap hewan pengerat di wilayah tersebut.
Penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius itu pun menceritakan bagaimana kondisi kapal. Awalnya wabah tersebut terjadi di dalam kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia di Argentina menuju ke Tanjung Verde. “Hingga saat ini, satu kasus infeksi hantavirus telah dikonfirmasi melalui laboratorium, dan ada lima kasus tambahan yang dicurigai,” kata WHO.
Seorang penumpang, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada BBC bahwa mereka bersiap untuk setidaknya tiga hingga empat hari lagi di laut. Para penumpang mengisi waktu dengan membaca, menonton film, dan menikmati minuman panas.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa hantavirus merupakan ancaman serius yang perlu diwaspadai, terutama dalam lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Penting untuk meningkatkan kesadaran akan gejala dan penularan hantavirus, serta melakukan upaya pencegahan yang efektif untuk mengurangi risiko infeksi.




