Timor.id – Manajer kepala Real Madrid, Alvaro Arbeloa, tampak tenang meski terdengar desas-desus kuat bahwa Jose Mourinho kembali dipertimbangkan untuk mengemban tongkat kepelatihan di Santiago Bernabeu. Dalam konferensi pers singkat pada Senin, 4 Mei 2026, Arbeloa menegaskan bahwa ia tidak akan terganggu oleh spekulasi media dan tetap mengarahkan tim pada satu tujuan utama: meraih kemenangan di setiap laga La Liga yang tersisa.
Rumor tentang kembalinya Mourinho muncul setelah kegagalan Real Madrid menembus babak final Liga Champions dan kehilangan gelar domestik pada musim 2025/2026. Beberapa analis mengaitkan kegagalan tersebut dengan ketegangan internal yang melibatkan pemain senior, seperti Dani Carvajal, Raul Asencio, Alvaro Carreras, dan Dani Ceballos. Konflik ini, menurut laporan El Mundo, dipicu oleh persepsi bahwa Arbeloa lebih mengutamakan pujian kepada bintang baru serta pemain asing, sementara pemain kebanggaan klub merasa diabaikan.
Situasi tersebut semakin memanas ketika Kylian Mbappe, yang tengah pulih dari cedera hamstring, terlihat berlibur ke Sardinia bersama aktris Ester Exposito. Arbeloa menanggapi dengan menegaskan bahwa urusan pribadi pemain berada di bawah pengawasan tim medis, bukan kebijakan pelatih. “Semua perencanaan pemulihan pemain dikelola oleh layanan medis Real Madrid, dan setiap pemain bebas mengatur waktu luangnya sesuai kebijaksanaan masing‑masing,” ujarnya.
Baca Juga:
Meski demikian, Arbeloa tidak menutup peluang perbaikan taktik. Ia mengaku sedang melakukan evaluasi mendalam terhadap pola permainan, terutama di lini pertahanan yang selama ini menjadi titik lemah. “Kami harus lebih solid dalam transisi dari bertahan ke menyerang, serta meningkatkan konsistensi dalam duel satu lawan satu,” jelasnya. Penekanan pada aspek teknis ini menjadi bukti bahwa fokus utama pelatih tetap pada hasil di lapangan, bukan pada rumor di luar.
Berikut ini rangkuman singkat mengenai isu‑isu internal yang sedang dihadapi Real Madrid:
- Ketegangan antara Arbeloa dengan pemain senior (Carvajal, Asencio, Carreras, Ceballos).
- Persepsi ketidakadilan dalam pemberian pujian dan kesempatan bermain.
- Keraguan atas kebijakan pemulihan Mbappe yang dianggap kurang transparan.
- Kegagalan meraih trofi utama selama dua musim berturut‑turut.
Arbeloa menutup pernyataan dengan menekankan pentingnya solidaritas tim menjelang pertandingan krusial melawan Barcelona. “Kami tidak akan membiarkan isu‑isu di luar lapangan mengganggu konsentrasi. Setiap pemain harus fokus pada tugasnya, karena hanya dengan kemenangan kami dapat kembali ke puncak,” tutupnya.
Dengan hanya tujuh pertandingan tersisa di klasemen La Liga, tekanan semakin besar. Namun, sikap tenang dan fokus pada hasil yang ditunjukkan oleh Alvaro Arbeloa memberikan harapan bagi para pendukung Real Madrid bahwa tim dapat bangkit kembali dan menutup musim dengan catatan positif, meski rumor Mourinho terus bergema di media.




