Timor.id – Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan pada pembukaan Kongres FIFA di Kanada bahwa tim nasional Iran akan tetap berpartisipasi dalam Iran Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan politik yang melibatkan pembatasan visa, tuduhan keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta tekanan dari pemerintah Kanada yang menolak masuknya individu berafiliasi dengan organisasi yang dianggap teroris.
Infantino menekankan bahwa keputusan FIFA bukan sekadar pertimbangan teknis, melainkan bagian dari komitmen organisasi untuk menjaga nilai persatuan melalui olahraga. “Kita harus bersatu. Ini adalah tanggung jawab saya, tanggung jawab kita bersama,” ujarnya, menegaskan bahwa sepak bola dapat menjadi jembatan bagi dunia yang terpecah.
Kongres FIFA menjadi sorotan ketika delegasi Iran absen dari agenda resmi karena masalah visa. Pemerintah Kanada sejak 2024 mencantumkan IRGC dalam daftar organisasi teroris, sehingga setiap anggota atau individu yang memiliki kaitan dengan kelompok tersebut dilarang memasuki wilayah Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan kebijakan tersebut diterapkan secara ketat.
Baca Juga:
Meski menghadapi rintangan diplomatik, Iran telah mengamankan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi zona Asia. Namun, permintaan Tehran agar laga timnasnya tidak dimainkan di wilayah Amerika Serikat ditolak oleh FIFA. Jadwal resmi pertandingan grup G yang melibatkan Iran, Selandia Baru, Belgia, dan Mesir telah ditetapkan, dengan dua laga pertama di Inglewood, California, dan satu laga terakhir di Seattle.
- Inglewood, California – Stadion milik Los Angeles Rams (15 Juni & 20 Juni)
- Seattle, Washington – Stadion milik Seattle Seahawks (26 Juni)
Para pemain Iran juga telah dijadwalkan untuk menjalani pemusatan latihan di Tucson, Arizona, menjelang turnamen. Dari sisi Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan tidak ada keberatan atas kehadiran pemain Iran, namun menegaskan bahwa anggota tim yang memiliki hubungan dengan IRGC tidak diperbolehkan masuk ke AS.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa delegasi Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) berencana mengadakan pertemuan krusial dengan FIFA di Zurich untuk membahas detail partisipasi mereka. Pertemuan tersebut dijadwalkan paling lambat 20 Mei, tiga minggu sebelum skuad Iran tiba di Amerika Serikat. Kepala FFIRI Mehdi Taj menegaskan pentingnya diskusi mengenai keamanan, logistik, dan hak-hak tim dalam konteks geopolitik yang masih bergejolak.
Sementara itu, spekulasi muncul mengenai kemungkinan playoff tambahan jika Iran tiba‑tiba mundur. FIFA sempat menyebutkan rencana melibatkan empat negara—dua dari UEFA dan dua dari AFC—in sebagai pengganti, membuka peluang bagi tim lain, termasuk Indonesia, untuk masuk melalui fase play‑off.
Di sisi lain, dukungan politik juga datang dari Amerika Serikat. Mantan Presiden Donald Trump, dalam sebuah pernyataan di Gedung Putih, menyatakan dukungannya terhadap keputusan Infantino. “Jika Gianni mengatakan demikian, saya tidak keberatan,” ujarnya, menambah dimensi politik yang melingkupi turnamen.
Ketegangan tidak hanya terbatas pada urusan visa. Delegasi Iran sempat mengalami interogasi di bandara Toronto terkait dugaan afiliasi dengan IRGC, yang menyebabkan mereka menunda perjalanan ke Vancouver dan akhirnya kembali ke Istanbul. Taj menuduh FIFA tunduk pada tekanan Amerika Serikat, meskipun organisasi tersebut berusaha menegakkan prinsip netralitas.
Dengan latar belakang konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan hubungan diplomatik yang rapuh, Iran Piala Dunia 2026 menjadi simbol tantangan besar bagi FIFA dalam menyeimbangkan kepentingan olahraga dan politik. Keputusan untuk tetap mengizinkan Iran berkompetisi menegaskan komitmen FIFA terhadap inklusivitas, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan penerimaan publik di negara tuan rumah.
Keberhasilan Iran di grup G akan menjadi sorotan utama, terutama jika mereka berhasil menembus babak 32 besar dan berpotensi berhadapan dengan tim tuan rumah Amerika Serikat di Texas. Pertandingan tersebut tidak hanya akan menjadi pertarungan atletik, tetapi juga momen simbolik bagi upaya FIFA menegakkan semangat persatuan melalui sepak bola.
Secara keseluruhan, keputusan FIFA untuk menjamin partisipasi Iran menegaskan bahwa olahraga tetap menjadi arena di mana perbedaan dapat dijembatani, meski dihadapkan pada dinamika politik internasional yang kompleks.




