Timor.id – Eddy Abdul Manaf, sosok yang jarang muncul di sorotan publik, kembali menjadi bahan perbincangan setelah beberapa pernyataannya yang kontroversial terulang di media sosial. Sebagai ayah dari musisi legendaris Ahmad Dhani, ia tidak hanya dikenal lewat hubungan keluarga, melainkan juga lewat karier panjangnya sebagai diplomat dan politisi. Lahir di Jawa Barat pada awal 1950-an, Eddy menapaki jalur pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sebelum menekuni dunia hubungan internasional.
Karier diplomatiknya dimulai pada akhir 1970-an ketika ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri. Selama hampir tiga dekade, ia ditempatkan di berbagai kedutaan strategis, termasuk di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Pengalaman tersebut memperkuat reputasinya sebagai diplomat yang handal dalam menangani isu-isu bilateral serta memperjuangkan kepentingan Indonesia di Timur Tengah. Berikut beberapa penugasan pentingnya:
- 1998‑2002: Kepala Staf Kedutaan Besar RI di Riyadh, Arab Saudi
- 2002‑2005: Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab
- 2005‑2008: Duta Besar RI untuk Mesir
Setelah pensiun dari layanan diplomatik, Eddy Abdul Manaf beralih ke dunia politik dengan bergabung pada partai politik nasional. Ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat serta menjadi penasihat strategis dalam beberapa kampanye politik. Dalam peran tersebut, ia dikenal aktif memperjuangkan kebijakan ekonomi berbasis UMKM dan meningkatkan kerjasama antarnegara di bidang energi.
Baca Juga:
Di luar panggung diplomasi dan politik, Eddy Abdul Manaf menjadi sorotan publik karena komentar-komentar pribadi mengenai keluarga menantunya. Pada tahun 2015, ia sempat mengungkapkan pujian tulus kepada Maia Estianty, menyebutnya sebagai menantu terbaik yang pernah ia temui. Pernyataan itu kemudian viral dan menjadi bahan lelucon hangat di kalangan penggemar musik. Sebaliknya, hubungan dengan Mulan Jameela, istri kedua Ahmad Dhani, tidak selalu harmonis. Eddy pernah menyatakan ketidaksukaannya secara terbuka, memicu perdebatan sengit di media sosial.
Komentar-komentar tersebut kembali mencuat pada awal 2024 ketika klip video lama muncul kembali di platform berbagi video. Netizen ramai menanggapi, sebagian mengkritik sikapnya yang terkesan elit, sementara yang lain membela hak kebebasan berpendapat. Meskipun demikian, Eddy tetap tegas pada pendiriannya, menegaskan bahwa ia hanya menyampaikan apa yang dirasakannya sebagai seorang ayah yang peduli terhadap kebahagiaan anaknya.
Kesimpulannya, Eddy Abdul Manaf adalah figur yang memadukan pengalaman diplomatik, politik, dan dinamika keluarga publik. Ia berhasil menapaki jenjang karier tinggi di luar negeri, kembali berkontribusi pada politik dalam negeri, dan tak luput dari sorotan karena pandangannya tentang menantu. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa tokoh publik sering berada di persimpangan antara tugas profesional dan kehidupan pribadi, yang keduanya dapat memengaruhi citra publik secara signifikan.




