Timor.id – Persaingan internal partai Golkar di Sulawesi Selatan kembali memanas menjelang rapat pleno wilayah. Dua nama besar, Andi Ina Kartika Sari dan sosok yang dikenal sebagai IAS, menjadi kandidat utama yang bersaing untuk mengisi kursi ketua DPD Golkar Sulsel. Dinamika ini menarik perhatian publik karena melibatkan tokoh-tokoh berpengalaman serta keputusan strategis DPP yang menyingkirkan kandidat lama, Appi, dari daftar pencalonan.
Andi Ina Kartika Sari, yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, dikenal memiliki jaringan luas di kalangan pengusaha dan aktivis sosial. Karier politiknya dimulai dari organisasi mahasiswa, kemudian melaju ke posisi legislatif daerah. Selama masa bakti, ia aktif mengusung program pembangunan infrastruktur desa, peningkatan akses pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi UMKM. Keberhasilannya dalam menggalang suara pada pemilihan legislatif sebelumnya menjadikannya sosok yang sangat diperhitungkan dalam perebutan pimpinan partai.
Sementara itu, IAS (Ibrahim Alatas Siregar) muncul sebagai kandidat kuat dengan latar belakang birokrasi nasional. Ia pernah menjabat sebagai pejabat senior di Kementerian Dalam Negeri dan memiliki pengalaman mengelola kampanye politik di tingkat provinsi. Pendukung IAS menekankan kemampuan administratifnya yang dapat memperkuat struktur organisasi Golkar Sulsel, terutama dalam menghadapi tantangan pemilihan umum mendatang.
Baca Juga:
DPP Golkar mengambil langkah kontroversial dengan menyingkirkan nama Appi, mantan ketua wilayah yang sempat menjadi sorotan karena dugaan pelanggaran etika partai. Keputusan ini dianggap sebagai upaya membersihkan citra dan memfokuskan dukungan pada dua kandidat yang dianggap memiliki potensi menang. Namun, keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan anggota senior yang merasa proses seleksi tidak transparan.
Berbagai faktor eksternal turut memengaruhi dinamika ini. Pemerintah pusat baru-baru ini meluncurkan program “Pacu Produksi Nasional” yang menargetkan penanaman padi secara serempak di 25 provinsi, termasuk Sulawesi Selatan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi pertanian. Di sisi lain, partai-partai politik, termasuk Golkar, berusaha menyesuaikan agenda mereka dengan kebijakan nasional agar tetap relevan di mata konstituen. Bagi Andi Ina, dukungan terhadap program pertanian dapat menjadi nilai jual utama, mengingat mayoritas pemilih di wilayah tersebut masih bergantung pada sektor pertanian.
- Kekuatan Andi Ina: jaringan luas, pengalaman legislatif, program pembangunan desa.
- Kekuatan IAS: latar belakang birokrasi, keahlian administratif, pengalaman kampanye provinsi.
- Strategi DPP: mengeliminasi kandidat kontroversial, memusatkan dukungan pada dua nama utama.
Persaingan ini tidak hanya berpengaruh pada struktur internal Golkar, tetapi juga pada peta politik Sulawesi Selatan secara keseluruhan. Jika Andi Ina Kartika Sari berhasil mengamankan posisi ketua, ia diproyeksikan akan memperkuat koalisi partai-partai kecil di DPRD dan berpotensi menjadi penentu dalam aliansi gubernur. Sebaliknya, kemenangan IAS dapat membawa pendekatan yang lebih terstruktur dan menekankan sinergi dengan kebijakan pemerintah pusat, khususnya dalam hal program pertanian dan infrastruktur.
Kesimpulannya, kontestasi kepemimpinan Golkar Sulsel menyoroti betapa pentingnya keseimbangan antara kekuatan politik tradisional dan kebutuhan akan pembaruan organisasi. Dengan Andi Ina Kartika Sari sebagai salah satu tokoh sentral, dinamika ini akan terus menjadi sorotan publik menjelang pemilihan pleno wilayah yang dijadwalkan akhir bulan ini.




