Timor.id – Peneliti dari University of New England (UNE) bersama Australian Institute for Strategic Artificial Intelligence (ISA) mengumumkan terobosan dalam recycling panel surya. Menggunakan simulasi kuantum berbasis AI dan laboratorium robotik otomatis, tim berhasil mengidentifikasi pelarut potensial yang dapat memisahkan silikon wafer dengan kontaminasi minimal, mempercepat proses daur ulang dari tahun menjadi bulan.
Proyek yang didanai sebesar 2,7 juta dolar Australia oleh Australian Research Council (ARC) menggabungkan kecerdasan buatan agenik yang mampu merancang, memproduksi, dan menguji bahan kimia secara mandiri. Robotik laboratorium ini tidak hanya mengurangi intervensi manusia, melainkan juga bekerja 24 jam nonstop, menjadikan siklus pengembangan jauh lebih cepat dibandingkan metode tradisional.
Profesor Amir Karton, ko‑direktur Institut Strategis AI UNE, menjelaskan bahwa umpan‑balik loop antara prediksi AI dan hasil eksperimental menciptakan “jalur penemuan yang aktif”. “Kami dapat mengarahkan penemuan jalur daur ulang optimal pada kecepatan yang belum pernah tercapai sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga:
Dr. Kasimir Gregory, dosen kimia, menambahkan bahwa kemampuan memprediksi pada tingkat molekuler memungkinkan tim untuk merancang formulasi pelarut yang tidak hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan. “Teknologi ini memberikan dorongan eksponensial pada penemuan ilmiah,” katanya.
- Investasi industri: Pengembang energi terbarukan ACEN Australia menyediakan panel surya dari proyek 720 MW New England Solar untuk pengujian laboratorium.
- Skala limbah: Pada awal 2025, kapasitas terpasang energi surya global melampaui 2 TW, dengan proyeksi penambahan 1 TW per tahun hingga 2030.
- Dampak regional: Australia diperkirakan akan menghasilkan satu juta ton limbah panel surya pada 2035, bernilai lebih dari 1 miliar dolar.
Selain terobosan teknologi, wilayah St. Johns County, Florida, menjadi sorotan setelah insiden penembakan jalan raya yang melibatkan keluarga pengunjung dari luar negara bagian. Kejadian tersebut menambah tekanan pada pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan publik, meski tidak terkait langsung dengan inovasi energi. Namun, keduanya mencerminkan tantangan sosial‑ekonomi yang dihadapi komunitas modern.
Dalam konteks ekonomi sirkular, kemampuan mendaur ulang silikon dengan tingkat kemurnian tinggi dapat mengurangi kebutuhan penambangan bahan baku baru, menurunkan jejak karbon, dan menambah nilai pada limbah panel surya. “Tidak praktis mengirim ribuan ton limbah ke lokasi jauh untuk diproses,” kata Karton, menekankan pentingnya solusi lokal yang didukung AI.
Penelitian ini juga membuka peluang kolaborasi internasional, mengingat tantangan limbah panel surya bersifat global. Dengan algoritma AI yang dapat di‑scale, negara‑negara lain dapat mengadopsi metodologi serupa, mempercepat transisi energi bersih secara duniawi.
Kesimpulannya, integrasi AI, komputasi kuantum, dan robotik dalam proses recycling panel surya menandai langkah signifikan menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dukungan industri dan kebijakan publik yang tepat akan memperkuat dampak inovasi ini, menjadikan energi terbarukan tidak hanya bersih, tetapi juga berkelanjutan dari siklus produksi hingga akhir hayatnya.




