Timor.id – Jakarta, 6 Mei 2026 – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif rencana pemerintah untuk kembali memberikan insentif bagi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menegaskan bahwa kebijakan fiskal tersebut dapat menjadi dorongan signifikan bagi pasar otomotif nasional yang tengah berhadapan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan daya beli masyarakat yang masih terbatas.
Insentif yang akan diimplementasikan dijadwalkan mulai Juni 2026, dengan kuota awal 100.000 unit mobil listrik. Pemerintah berencana menanggung sebagian besar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui skema PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), dengan variasi antara 40 hingga 100 persen tergantung pada jenis kendaraan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menambahkan bahwa skema subsidi juga akan dipisahkan berdasarkan teknologi baterai: kendaraan dengan baterai berbasis nikel akan memperoleh insentif yang lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan baterai lithium ferro‑phosphate (LFP), dengan tujuan mendongkrak penggunaan nikel dalam rantai nilai domestik.
Data penjualan tahun 2025 menunjukkan lonjakan yang signifikan. Secara wholesales, distribusi mobil listrik murni mencapai 103.931 unit, mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 140,64 persen dibandingkan realisasi 2024 yang hanya 43.188 unit. Peningkatan ini dipicu oleh hadirnya model‑model dengan harga terjangkau, antara lain BYD Atto 1 yang dibanderol mulai Rp199 juta, Changan Lumin dari Rp183 juta, Geely EX2 dengan harga Rp255 juta, serta Jaecoo J5 EV mulai Rp249,9 juta.
Baca Juga:
Meski antusias, Gaikindo tetap menunggu kejelasan regulasi pelaksanaannya. “Kami sangat menghargai rencana pemerintah, namun kami tunggu peraturannya dulu sebelum memberikan tanggapan lebih lanjut,” ujar Jongkie. Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan resmi Gaikindo yang menekankan pentingnya kepastian hukum bagi produsen, importir, dan konsumen dalam mengoptimalkan manfaat insentif.
Tren kenaikan penjualan EV juga terlihat pada kuartal I 2026. Menurut catatan Gaikindo, total penjualan mobil secara wholesales mencapai 209.021 unit, tumbuh tipis 1,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kontribusi mobil listrik mengalami lonjakan hampir 95 persen pada kuartal tersebut, menggeser pangsa pasar mobil berbahan bakar internal (ICE) yang mulai menurun. CEO Indomobil National Distributor, Tan Kim Piauw, mencatat bahwa proporsi EV dalam total penjualan naik dari 8 persen pada Q1 2025 menjadi hampir 15 persen pada Q1 2026.
Pengembangan infrastruktur pengisian daya turut memperkuat ekosistem EV. Proyek SPKLU Zora di Serpong memperkenalkan teknologi split‑charging dengan daya hingga 400 kW, memungkinkan pengisian ultra cepat bagi kendaraan listrik. Kombinasi antara kebijakan fiskal, ketersediaan model terjangkau, dan dukungan infrastruktur diperkirakan akan mempercepat adopsi EV di kalangan konsumen menengah ke atas, sekaligus menstimulasi pertumbuhan industri komponen otomotif lokal.
Secara keseluruhan, insentif mobil listrik tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan daya beli jangka pendek, melainkan juga sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, menurunkan emisi karbon, dan memperkuat basis industri manufaktur dalam negeri. Jika kuota 100.000 unit terserap dengan cepat, pemerintah siap menambah alokasi pada fase berikutnya, menjadikan Indonesia salah satu pasar EV dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Tenggara.




