Timor.id – Jakarta, 29 April 2026 – Menjelang pernikahan dengan penyanyi El Rumi, selebriti Syifa Hadju memutuskan untuk menjalani puasa mutih, sebuah praktik diet yang menekankan konsumsi makanan putih dan menghindari warna-warni. Setelah melewati masa pantang, ia mengumumkan bahwa dirinya kini dapat kembali menikmati hidangan beragam tanpa batasan, menandai berakhirnya fase pengekangan diri yang sempat menjadi sorotan publik.
Puasa mutih, yang mulai populer di kalangan selebriti dan influencer Indonesia pada awal 2020-an, mengklaim dapat meningkatkan kesehatan kulit, menurunkan berat badan, serta menyelaraskan energi tubuh. Praktik ini melibatkan konsumsi makanan berwarna putih atau netral seperti nasi, kentang, ayam tanpa kulit, serta sayuran seperti kembang kol dan jamur. Selama periode puasa, para pelaku biasanya menghindari makanan berwarna merah, kuning, hijau, atau biru, yang dianggap mengganggu keseimbangan energi menurut kepercayaan tradisional.
Syifa Hadju, yang sebelumnya dikenal lewat perannya sebagai presenter televisi, mengaku memulai puasa mutih karena ingin tampil maksimal pada hari pernikahan. “Saya ingin kulit saya bersinar dan berat badan ideal, sehingga penampilan di hari penting dapat lebih percaya diri,” ujar Syifa dalam sebuah wawancara eksklusif. Selama tiga minggu, ia mematuhi aturan ketat, mengonsumsi hanya makanan putih, serta menambahkan suplemen herbal untuk mendukung metabolisme.
Baca Juga:
Namun, tidak hanya Syifa yang menjalani puasa mutih. Praktik ini telah menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk atlet, pekerja kantoran, dan bahkan komunitas kesehatan alternatif. Berikut beberapa poin penting yang sering dibahas terkait puasa mutih:
- Manfaat yang dilaporkan: Perbaikan kondisi kulit, penurunan berat badan, dan rasa energi yang lebih stabil.
- Kritik medis: Ahli gizi mengingatkan bahwa pembatasan warna makanan dapat mengurangi asupan vitamin dan antioksidan penting.
- Aspek budaya: Puasa mutih dianggap sebagai bentuk modernisasi tradisi puasa yang menekankan kesederhanaan dan kebersihan.
Di sisi lain, selama masa puasa Syifa Hadju, jaringan transportasi nasional juga menjadi sorotan. Kereta api KA Surabaya‑Jakarta yang dijadwalkan beroperasi mengalami pembatalan mendadak, memaksa calon penumpang mengembalikan tiket mereka. Meskipun tidak terkait langsung dengan tren puasa, insiden tersebut menambah dinamika berita harian, memperlihatkan betapa beragamnya isu yang menggerakkan masyarakat Indonesia pada saat yang bersamaan.
Para ahli gizi menekankan pentingnya keseimbangan dalam mengadopsi pola makan apa pun. Dr. Rina Suryani, dosen gizi Universitas Indonesia, menjelaskan, “Mengonsumsi hanya satu spektrum warna makanan dapat menyebabkan defisiensi mikronutrien, terutama vitamin C, beta‑karoten, dan flavonoid yang umumnya terkandung dalam buah dan sayur berwarna.” Ia menambahkan bahwa bagi mereka yang ingin mencoba puasa mutih, sebaiknya melakukannya dalam jangka pendek dan di bawah pengawasan profesional.
Selain itu, fenomena puasa mutih juga memicu perdebatan di media sosial. Beberapa influencer menyuarakan dukungan, sementara yang lain menyoroti potensi risiko kesehatan. Diskusi ini mencerminkan tren digital di mana informasi kesehatan cepat menyebar, namun tidak selalu terverifikasi secara ilmiah.
Syifa Hadju kini melaporkan bahwa tubuhnya kembali normal, dan ia dapat menikmati hidangan tradisional Indonesia seperti rendang, sate, dan gado‑gado tanpa rasa bersalah. “Saya merasa lebih ringan, kulit lebih cerah, dan yang terpenting, saya siap menapaki hidup baru bersama El Rumi,” tuturnya dengan senyum.
Kesimpulannya, puasa mutih tetap menjadi topik menarik yang menggabungkan elemen budaya, kesehatan, dan tren media. Sementara beberapa orang melaporkan manfaat positif, penting bagi publik untuk memahami batasan dan risiko yang mungkin timbul. Pilihan diet apapun sebaiknya diambil dengan pertimbangan ilmiah dan konsultasi medis, terutama bila dijalankan dalam jangka waktu lama.




