Timor.id – Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan yang sekaligus mengundang tawa sekaligus kemarahan. Dalam sebuah konferensi pers di Washington, D.C., ia menanggapi kritik tajam atas harga tiket Piala Dunia 2026 yang melambung hingga hampir Rp35 miliar per tiket final. Infantino menegaskan bahwa harga tersebut merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar hiburan di Amerika Serikat, dan menambahkan dengan nada jenaka, “Jika ada yang membeli tiket final seharga $2 juta, saya pribadi akan membawakan hot dog dan Coca‑Cola untuk memastikan mereka menikmati pengalaman luar biasa.”
Penjualan resmi tiket final di platform FIFA Marketplace menampilkan harga resmi sekitar $11 000 (sekitar Rp191,5 juta). Namun, di pasar sekunder, empat tiket terdaftar dengan harga lebih dari $2 juta (sekitar Rp34,8 miliar). Harga selangit ini memicu reaksi keras dari kelompok suporter Football Supporters Europe (FSE) yang menuduh FIFA melakukan pemerasan dan mengajukan gugatan ke Komisi Eropa pada Maret lalu.
Berikut rangkuman data harga tiket yang beredar:
Baca Juga:
| Kategori Tiket | Harga Resmi (USD) | Harga Resmi (IDR) | Harga Pasar Sekunder (USD) |
|---|---|---|---|
| Final – Kategori Premium | $11,000 | ≈ Rp191,5 juta | > $2,000,000 |
| Final – Kategori Standar | $7,500 | ≈ Rp130 juta | $500,000–$1,200,000 |
| Fase Grup – Harga Terendah | $300 | ≈ Rp5,2 juta | – |
| Pembukaan AS vs Paraguay | $1,120–$4,105 | ≈ Rp18,4–Rp71,1 juta | – |
Infantino mengutip angka lebih dari 500 juta permintaan tiket untuk Piala Dunia 2026, jauh melampaui gabungan kurang dari 50 juta permintaan pada edisi 2018 dan 2022. Ia menekankan bahwa 25 % tiket fase grup dipatok di bawah $300, menegaskan bahwa “di AS, Anda tidak dapat menonton pertandingan profesional dengan harga di bawah $300, apalagi Piala Dunia.”
Meski demikian, laporan terbaru menunjukkan adanya kursi kosong pada beberapa laga fase grup, termasuk pertandingan pembukaan antara Amerika Serikat dan Paraguay yang masih menyisakan banyak tiket. Harga tiket pembukaan dimulai dari $1,120 (sekitar Rp18,4 juta) hingga $4,105 (sekitar Rp71,1 juta), sementara paket hospitality mencapai $6,050 per kursi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kesenjangan antara ekspektasi pendapatan FIFA yang diproyeksikan mencapai lebih dari $11 miliar dan realitas penjualan tiket di lapangan.
Para kritikus, termasuk mantan CEO Liverpool Peter Moore, menilai FIFA memanfaatkan sistem dynamic pricing di AS secara berlebihan. Mereka berargumen bahwa FIFA dapat menurunkan harga tanpa mengorbankan keuntungan signifikan, sehingga turnamen tetap dapat diakses oleh suporter biasa. Di sisi lain, pernyataan Infantino mengenai hot dog dan Coca‑Cola menimbulkan reaksi beragam di media sosial, ada yang menganggapnya sebagai candaan ringan, namun ada pula yang menilai itu sebagai upaya mengalihkan perhatian dari isu utama—aksesibilitas dan keadilan harga.
Perbandingan dengan edisi sebelumnya juga memperjelas besarnya lonjakan harga. Pada final Piala Dunia 2022 di Qatar, tiket termahal dijual sekitar $1,600 (sekitar Rp27,8 juta). Kini, harga resmi tiket final 2026 mencapai $11,000 (sekitar Rp191,5 juta), sementara harga pasar sekunder melampaui $2 juta. Infantino menegaskan bahwa harga pasar sekunder tidak mencerminkan harga resmi FIFA dan tidak semua tiket dengan harga setinggi itu akan terjual.
Kontroversi ini menimbulkan perdebatan yang lebih luas mengenai komersialisasi olahraga global, terutama ketika turnamen bergengsi seperti Piala Dunia dijadikan ajang profit besar. Sejumlah pihak menyerukan FIFA untuk meninjau kembali kebijakan harga, mengingat tujuan utama sepak bola adalah inklusivitas dan semangat kebersamaan. Hingga saat ini, FIFA belum memberikan kepastian mengenai penyesuaian harga atau mekanisme perlindungan bagi suporter yang terdampak.
Dengan menunggu keputusan lebih lanjut, para penggemar di seluruh dunia tetap menantikan turnamen yang diprediksi akan menjadi salah satu yang paling berteknologi tinggi dan paling menguntungkan dalam sejarah sepak bola.




