Na Daehoon Tunjukkan Pola Parenting Modern untuk Single Dad di Era Digital

Author Image

Terbit

7 Mei 2026, 10:56 WIB

Na Daehoon Tunjukkan Pola Parenting Modern untuk Single Dad di Era Digital
Na Daehoon Tunjukkan Pola Parenting Modern untuk Single Dad di Era Digital

Timor.id – Na Daehoon, selebgram asal Korea Selatan yang kini menjadi single dad, menarik perhatian publik Indonesia lewat gaya pengasuhan yang tegas namun penuh empati. Setelah perceraian, Daehoon mengubah peran dari suami menjadi ayah tunggal yang aktif terlibat dalam tumbuh kembang tiga anaknya. Pendekatan yang ia bagikan lewat unggahan media sosial menjadi contoh nyata bagi orang tua modern, khususnya ayah tunggal, yang harus menyeimbangkan tanggung jawab emosional dan material.

Menurut American Psychological Association, kehadiran orang tua secara fisik dan emosional sangat penting bagi perkembangan anak. Dukungan tersebut dapat meningkatkan harga diri, prestasi akademik, serta menurunkan risiko depresi pada remaja. Daehoon mencontohkan hal ini dengan meluangkan waktu bersama anak-anaknya, mulai dari mengantar ke sekolah hingga mengawasi pekerjaan rumah. Ia menekankan pentingnya “availability”—kesediaan hadir saat anak membutuhkan bantuan, tanpa harus selalu berada di samping secara fisik.

Beberapa prinsip parenting yang Daehoon terapkan antara lain:

  • Disiplin konsisten: Daehoon menetapkan batasan yang jelas namun fleksibel, memberi ruang bagi anak untuk bernegosiasi dalam kerangka nilai keluarga.
  • Dialog terbuka: Menggunakan pendekatan permissive, ia mengajak anak berdiskusi tentang keputusan kecil, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian.
  • Modeling behavior: Sebagai panutan, Daehoon menunjukkan perilaku yang ingin ditiru, seperti mengelola emosi dengan tenang ketika menghadapi situasi sulit.

Penelitian dari Universitas Airlangga menegaskan bahwa peran ayah yang aktif, meski dalam situasi single dad, dapat memperkuat ikatan emosional dan sosial anak. Ari Pratiwi, S.Psi., M.Psi., menambahkan bahwa “availability” ayah tidak harus bersifat fisik terus-menerus, melainkan berupa kesiapan mental dan emosional.

Dalam konteks anak usia 8 tahun, fase middle childhood menuntut dukungan khusus. Anak pada usia ini mulai mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, kemandirian, serta mengelola emosi yang lebih kompleks. Daehoon memperhatikan hal ini dengan memberikan tugas rumah sederhana, seperti merapikan tempat tidur atau membantu mencuci pakaian, sekaligus memberikan kebebasan untuk belajar dari kesalahan.

Selain itu, Daehoon menekankan pentingnya kebiasaan membaca bersama anak. Ia sering membacakan buku dan mengajak anak menceritakan kembali isi bacaan, yang menurut Dr. Pierrette Mimi Poinsett dapat memperkaya kosakata dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Kegiatan ini juga menjadi momen bonding yang memperkuat rasa aman dan kepercayaan diri anak.

Pengalaman Daehoon juga menggarisbawahi tantangan sosial yang dihadapi ayah tunggal, seperti stigma atau kurangnya dukungan komunitas. Namun, melalui jaringan online dan komunitas parenting, ia berhasil menemukan sumber belajar dan dukungan moral. Ia mengajak para ayah lain untuk tidak ragu mencari bantuan profesional bila diperlukan, termasuk konseling psikologis untuk mengelola stres.

Secara keseluruhan, pola parenting Na Daehoon mencerminkan sinergi antara ilmu psikologi modern dan nilai budaya Korea yang menekankan kebersamaan keluarga. Dengan menggabungkan disiplin, dialog terbuka, serta kehadiran emosional, ia berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal anak‑anaknya. Praktik ini dapat dijadikan referensi bagi orang tua di Indonesia, khususnya ayah tunggal, yang ingin mengoptimalkan peran mereka dalam mendidik generasi masa depan.

Related Post

Terbaru